Selamat Datang.............

Rabu, Mei 02, 2012

NABI MUHAMMAD S.A.W INSAN FITRAH


Nabi Muhammad s.a.w adalah seorang manusia fitrah yang sejak awal kejadian baginda s.a.w senantiasa bergerak di atas landasan fitrah insan yang suci murni. Fitrah yang suci bersih lagi murni akan mencetuskan perjuangan dalam jiwa apabila insan itu dibaluti oleh suasana yang penuh dengan kemunkaran, kezaliman, penyembahan berhala dan benda-benda alam, perebutan kekuasan, kegilaan kepada harta dan bermacam-macam adat serta kebudayaan yang menyimpang jauh dari sifat fitrah yang asli. Perjuangan dalam jiwa Nabi Muhammad s.a.w sampai ke puncaknya ketika baginda s.a.w mencapai usia 36 tahun. Kejahilan, kesyirikan, kekafiran, kemunkaran dan kezaliman yang merajalela di dalam masyarakat menjadi beban yang sangat berat menghimpit jiwa fitrah baginda s.a.w. Tekanan tersebut menjadi lebih kuat lantaran segala kerusakan itu terjadi kepada orang-orang yang hampir dengan baginda s.a.w, kaum keluarga dan masyarakat yang sama keturunan dengan baginda s.a.w, sedangkan jalan untuk menyelamatkan mereka tidak terbuka. Jiwa fitrah yang sangat mengasihi sesama manusia sangat menginginkan keselamatan dan kesejahteraan kepada sekalian manusia. Jiwa yang seperti inilah yang selalu menderita ketika melihat kerusakan yang terjadi kepada orang lain.
Fitrah yang suci murni memiliki kemampuan yang istimewa yaitu kemampuan untuk mengenal dan mengerti tentang sesuatu yang benar dan juga memiliki kemampuan untuk bergerak kepada yang benar itu. Pada waktu mencapai usia  36 tahun Nabi Muhammad s.a.w diseret oleh fitrah suci baginda s.a.w ke Gua Hiraa, kira-kira 10 km ke utara Makkah. Gua tersebut terletak di atas Gunung Hiraa, kira-kira 20 meter dari puncak gunung. Seorang lelaki yang kuat memerlukan waktu kira-kira 40 minit untuk mendaki dari bawah hingga ke aras Gua Hiraa. Jalan masuk ke dalam gua tersebut sangat sempit, di celah dua buah ketulan batu besar yang hampir bertaut. Seseorang yang ingin melaluinya perlu menyusup dengan bersusah payah. Setelah mampu melamapui jalan yang sempit itu seseorang akan masuk ke dalam satu ruang kosong yang sempit juga. Ruangnya tidak memadai untuk seorang manusia tidur dengan leluasa di dalamnya.
Gua tersebut disembunyikan oleh batu-batu besar, hampir-hampir tidak ada cahaya matahari yang masuk ke dalamnya. Batu-batu di sekitar gua itu berwarna hitam kemerah-merahan yang bisa menimbulkan rasa takut dalam hati siapapun yang menyaksikan pemandangan di sana. Bagian yang terdapat Gua Hiraa merupakan bagian yang paling menakutkan di antara semua bagian Gunung Hiraa.
Tarikan Fitrah telah membawa Nabi Muhammad s.a.w ke tempat yang tidak ada manusia mau pergi, apa lagi tinggal beberapa hari di sana siang dan malam. Bulan Ramadan merupakan waktu yang paling baginda s.a.w gemari berkhalwat di Gua Hiraa. Baginda s.a.w berulang-kali ke Gua Hiraa sampai wahyu yang pertama turun ketika usia baginda s.a.w mencapai 40 tahun.
Suasana Gua Hiraa menceritakan bahwa hanya insan yang berjiwa besar dan sangat berani serta bersemangat baja saja yang sanggup tinggal di sana seorang diri, siang dan malam dan berhari-hari lamanya. Hanya tawakal dan keyakinan yang teguh membuat seseorang mampu bertahan di dalam kegelapan Gua Hiraa, tidak dapat melihat binatang bisa seperti ular dan jengking yang mungkin muncul pada bila-bila masa saja. Insan yang bisa tinggal di sana pastilah di dalam jiwanya tidak ada sebesar zarah pun rasa takut kepada makhluk, kecintaan kepada dunia, harta benda, pangkat dan kemuliaan. Hanya jiwa Islam (berserah diri sepenuhnya kepada Allah s.w.t) yang sempurna dapat tinggal sendirian di dalam Gua Hiraa. Tujuan, harapan dan pergantungan hanyalah Allah s.w.t, Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.
Semakin mendekati usia 40 tahun semakin sering Nabi Muhammad s.a.w mengunjungi Gua Hiraa. Apabila berada di luar gua, terutamanya pada waktu malam, baginda s.a.w merenungi bangunan alam maya, melihat kerapian susunannya dan keindahan gubahannya. Apabila berada di dalam gua baginda s.a.w merasakan ketenangan, kedamaian dan kelezatan. Gua Hiraa yang gelap gulita dan sunyi sepi memisahkan baginda s.a.w dari seluruh alam dan makhluk. Kegelapan membungkus jasad sampai pengaruh jasad tidak lagi menghijab hati nurani. Apabila terpisah dari segala yang maujud, fitrah suci akan merdeka dari segala sesuatu kecuali Allah s.w.t. Cahaya fitrah yang suci lagi murni memancar dengan terang benderang menyuluh ke seluruh pelosok alam maya menyaksikan dengan jelas apa yang tidak mampu dipandang dengan mata. Tiap sesuatu menjadi terang benderang di dalam sinaran fitrah suci Nabi Muhammad s.a.w. Tidak ada satu zarah pun yang terlindung dari pandangan mata hati baginda s.a.w. Semuanya jelas dan nyata namun, masih ada satu yang tidak dapat disingkap oleh fitrah, walaupun seseorang itu manusia suci.
Fitrah mampu menyingkap rahasia kemanusiaan sehingga manusia bisa membentuk tatasusila kehidupan yang sesuai untuk dijalani oleh semua umat manusia. Fitrah bisa membentuk sistem moral yang baik. Fitrah dapat menguruskan urusan negara dan perdagangan. Fitrah dapat membuka alam maya dan benda-benda alam. Tetapi apabila berhadapan dengan Pencipta manusia dan alam sekaliannya dan juga Pencipta fitrah itu sendiri maka fitrah hanya mampu berkata, “Allah!” dan masuk kepada penyerahan tanpa takwil.
Apa yang dilalui oleh Nabi Muhammad s.a.w di Gua Hiraa pernah dialami juga oleh Nabi Ibrahim a.s, sebagaimana diceritakan oleh al-Quran: 
"Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Nabi Ibrahim kebesaran dan kekuasaan (Kami) di langit dan di bumi, dan supaya menjadilah ia dari orang-orang yang percaya dengan sepenuh-penuh yakin. Maka ketika ia berada pada waktu malam yang gelap, ia melihat sebuah bintang (bersinar-sinar), lalu ia berkata: “Inikah  Tuhanku?” Kemudian apabila  bintang  itu terbenam,  ia berkata pula: “Aku tidak suka kepada yang terbenam hilang.” Kemudian apabila dilihatnya bulan terbit (menyinarkan cahayanya), ia berkata: “Inikah Tuhanku?” Maka setelah bulan itu terbenam berkatalah ia: “Demi sesungguhnya, jika aku tidak diberikan petunjuk oleh Tuhanku, niscaya menjadilah aku dari kaum yang sesat”. Kemudian apabila ia melihat matahari sedang terbit (menyinarkan cahayanya), berkatalah ia: “Inikah Tuhanku? Ini lebih besar!” Setelah matahari terbenam, ia berkata pula: “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri (bersih) dari apa yang kamu sekutukan (Allah dengannya). Sesungguhnya aku hadapkan muka dan diriku kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi, sedang aku tetap di atas dasar tauhid dan bukanlah aku dari orang-orang yang menyenkutukan Allah (dengan sesuatu yang lain)”. ( Ayat 75 – 79 : Surah al-An’aam )
Tafakur membawa Nabi Ibrahim a.s berhujah dengan pemahaman-pemahaman yang menjadikan benda-benda alam sebagai tuhan-tuhan. Tafakur dan hujah berakhir pada tahap: “Aku hadapkan wajahku kepada yang menciptakan semua langit dan bumi. Aku hadapkan dengan fitrah yang hanif. Aku tidak mempersekutukan-Nya dengan apa-apa pun”. Tahap terakhir ini Allah s.w.t bukakan kepada para hamba-Nya yang Dia kehendaki. Hadapkan fitrah suci kepada-Nya dengan penuh keikhlasan tanpa mengadakan takwil mengenai-Nya dan tidak mengadakan sekutu bagi-Nya. Dia sendiri menentukan bila dan bagaimana Dia berkehendak mengadakan pembukaan kepada hamba-Nya.
Pada 17 Ramadan, tahun 41 dari umur Nabi Muhammad s.a.w, datanglah malaikat Jibrail a.s membawa wahyu yang pertama dari Tuhan Azza wa Jalla, sebagai menyempurnakan lagi fitrah Nabi Muhammad s.a.w, menaikkan fitrah insan kepada derajat fitrah Muslim, menjawab segala yang terkilan, menguraikan segala yang kusut dan membukakan segala yang tertutup. Sempurnalah kesempurnaan  Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hasyim dipersiapkan untuk menanggung mahkota seluruh alam, menjadi penutup sekalian nabi-nabi, menjadi penyelamat umat manusia dan dunia seluruhnya, menjadi rahmat kepada sekalian alam dan menjadi kekasih Allah!

Selasa, Mei 01, 2012

NABI MUHAMMAD S.A.W DIUTUS UNTUK MENYELAMATKAN UMAT MANUSIA


KEADAAN DUNIA SEBELUM KELAHIRAN NABI MUHAMMAD S.A.W
Dunia pada abad ke enam Masehi adalah umpama seorang yang sedang sakit sangat parahnya, teramat sangat memerlukan kepada penyelamat dan perawat yang mahir untuk mengobati penyakitnya dan menyelamatkannya dari bermacam-macam huru-hara dan kemusnahan. Semua bangsa-bangsa di seluruh pelosok dunia dicengkam oleh kegelapan akidah dan kehancuran moral. Bangsa Aria di Sepanyol dan di selatan Perancis terlibat di dalam perebutan kuasa dengan kerajaan Clovis yang bermazhab Katholik. Bangsa Aria yang mendapat bantuan dari kerajaan Roman Timur mampu menewaskan kerajaan Clovis. Setelah mampu menewaskan kerajaan Clovis, bangsa Aria berperang pula menentang kerajaan Roman Timur yang telah membantu mereka, karena berebut kuasa ke atas tanah jajahan. Di negeri Inggeris pula bangsa Anglo dan bangsa Saxon juga terlibat di dalam kes perebutan tanah. Di Itali, kekuasaan kerajaan Roman sudah sangat lemah, lalu ia berpindah kepada kekuasaan gereja (agama Masehi). Kerajaan Yunani juga sudah dijajah oleh kerajaan Roman Timur.
Bangsa-bangsa yang kuat di Eropah sering menyerang kedaulatan bangsa-bangsa yang lemah di Eropah Selatan. Bangsa Got dan bangsa Han berlomba-lomba memperluaskan tanah jajahan. Di tengah-tengah Asia Kecil muncul bangsa Turki yang mampu menyekat perkembangan kekuasaan Yunani. Semua bagian dunia yang dikuasai oleh kerajaan Roman Timur mengalami kerusakan hebat akibat kekejaman perang dan kezaliman pemerintah. Bukan kerajaan Roman Timur saja yang melakukan kerusakan di atas muka bumi malah siapapun saja yang mampu memperoleh kemenangan telah melakukan keganasan dan kerusakan, bahkan ada yang lebih ganas dan kejam dari Roman Timur.
Bukan di Eropah saja bergolak. Pergolakan berlaku juga di Asia. Di Tibet, India dan Cina muncul pemahaman yang ganjil-ganjil dan kepercayaan mistik yang sukar difahami, baik dalam bidang keagamaan, falsafah dan juga dalam bidang politik. Perbedaan pemahaman keagamaan, falsafah dan politik sering menjadi isu yang menyebabkan persengketaan satu sama lain. Keadaan diburukkan lagi oleh peperangan yang berlaku dengan orang luar.
Kerajaan Masehi Roman Timur yang berpusat di Konstantinopal terlibat di dalam kancah peperangan dengan kerajaan Parsi. Kemenangan sering bertukar tangan di antara mereka. Selain kerajaan Parsi, kerajaan lain yang lebih kecil dapat dikalahkan oleh kerajaan Roman. Sayap penindasan kerajaan Roman sampai juga ke Mesir.
Dunia pada ketika itu penuh dengan kebuasan, kezaliman dan pertumpahan darah. Umat manusia lebih berminat melakukan kerusakan daripada berbuat kebaikan dan perdamaian. Pemimpin bukan lagi menjadi pelindung dan penyelamat rakyat malah, merekalah yang lebih dahulu menindas rakyat yang mereka pimpin. Nyawa manusia menjadi tidak berharga asalkan nafsu buas pemimpin yang berkuasa mendapat kepuasan. Sikap belas kasihan kepada rakyat yang lemah sangat jarang ditemui di kalangan golongan yang berkuasa.
Pada ketika itu masih ada golongan yang berpegang kepada nilai-nilai murni yang diajarkan oleh agama tetapi mereka tidak ada kekuatan untuk melakukan perubahan atau menyekat kerusakan yang melanda dunia dan umat manusia. Suara keagamaan tidak cukup lantang untuk sampai ke telinga orang-orang yang berkuasa. Di kebanyakan tempat pihak yang berkuasa mengadakan tekanan dan kongkongan terhadap ahli-ahli agama sehingga cahaya agama yang sebenarnya tertutup dan diperlihatkan cahaya agama yang telah diwarnai oleh pihak pemerintah. Seluruh pelosok bumi sudah dicakar oleh kuku kuasa-kuasa besar, hanya satu tempat saja pada ketika itu yang masih selamat dari kuku kerusakan penjajah. Tempat tersebut adalah Tanah Arab. Semenanjung Arab bukan diselamatkan oleh kekuatan dan kepintaran penduduknya tetapi ia diselamatkan oleh kekuatan alam bumi bertuah itu. Lautan padang pasir dan gunung-ganang menjadi benteng pertahanan yang kuat menghalang percobaan kuasa besar untuk masuk ke dalamnya.
Umat manusia sangat berhajat kepada penyelamat yang mampu mengadakan perubahan, membela nasib golongan yang lemah dan memperbaiki segala macam kerusakan yang telah melanda dunia. Seluruh dunia sudah berada di dalam keadaan huru-hara, hanya bumi Arab yang masih bertahan. Bumi yang dipelihara itu menjadi tempat yang paling sesuai untuk dijadikan markas bagi penyelamat yang akan datang untuk memulai tugas demi umat manusia seluruhnya.
SEMENANJUNG ARAB SEBELUM KELAHIRAN NABI MUHAMMAD S.A.W
Walaupun sebagian besar dari Semenanjung Tanah Arab tidak mampu dijajah oleh kuasa-kuasa besar namun, sebagian darinya tidak terlepas dari kuku penjajah. Bahrain dan Irak dijajah oleh kerajaan Parsi. Syria dijajah oleh kerajaan Masehi Roman Timur. Arab Hijaz dan Arab Tengah agak bernasib baik, walaupun mereka ada persepemahaman untuk tunduk kepada kerajaan Parsi tetapi ia tidak dikuatkuasakan.
Di antara semua penduduk Arab, kaum Badwi yang tinggal di pergunungan dan padang pasir menjadi satu-satunya golongan Arab yang benar-benar bebas dari kekuasaan penjajah. Mereka jugalah kemudian hari kelak menjadi tenaga pejuang yang paling kuat di dalam menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok bumi Arab dan juga lain-lain tempat di atas muka bumi.
Sebelum Islam muncul di Tanah Arab, agama-agama Masehi dan Yahudi dan juga agama menyembah berhala sudah bertapak di sana. Di antara mereka penganut agama Yahudilah yang paling fanatik dan agresif. Mereka bukan sekedar mau menjajah untuk mendapatkan kekuasaan dan harta malah mereka sangat benci dan memusuhi siapapun yang tidak seagama dengan mereka. Mereka menganggap berkuasa terhadap bangsa-bangsa lain sebagai satu jihad yang mulia. Di dalam melakukan jihad tersebut mereka melakukan apa saja asalkan tujuan mereka tercapai. Penindasan keagamaan yang berlaku di Tanah Arab biasanya ada kaitan dengan penganut agama Yahudi. Ketika berkuasa di Yaman orang-orang Yahudi telah membakar 20.000 penganut agama Masehi yang enggan menerima agama Yahudi. Pembunuhan manusia yang tidak bersalah itu telah mencemarkan kemurnian agama Yahudi dan pencemaran tersebut diperturunkan kepada generasi Yahudi yang di belakang.
Agama Masehi pula kurang mendapat tempat di hati orang-orang Arab. Agama yang telah diresapi oleh pemahaman mistik yang pelik-pelik itu tidak menarik minat orang Arab yang umumnya bersifat kebendaan. Walaupun ada sebilangan kecil orang Arab yang memeluk agama Masehi namun, agama tersebut tidak mampu disebarkan dengan meluas.
Agama yang paling popular kepada orang-orang Arab adalah agama menyembah berhala. Mereka yang masih percaya kepada Tuhan Pencipta langit dan bumi tidak terlepas dari perbuatan syirik yaitu mengadakan berhala-berhala sebagai perantaraan di antara mereka dengan Tuhan. Beberapa buah berhala besar dibina di beberapa tempat. Di samping mempertuhankan berhala-berhala besar, suku dan keluarga Arab mempunyai berhala-berhala kecil yang juga dipertuhankan.
Selain dari penyembah berhala ada juga suku-suku Arab yang menyembah bulan dan bintang, seperti suku-suku Kinanah, Lakham, Jurhum, Asad dan Tayyi. Kebanyakan dari orang Arab tidak percaya kepada hari akhirat. Mereka beranggapan hidup ini berakhir dengan kematian. Oleh itu segala perkara mesti diselesaikan di dunia ini juga. Ada juga sebagian dari mereka yang percaya kematian bukan kesudahan kehidupan, terutamanya bagi orang yang mati dibunuh. Golongan ini percaya mangsa pembunuhan tidak dapat hidup aman pada alam lain sebelum dilakukan pembalasan terhadap pembunuhnya.
Ada juga segelintir golongan Arab yang percaya kepada malaikat. Mereka percaya malaikat berkaitan dengan orang-orang suci di kalangan mereka. Mereka yang dianggap suci itu dijadikan perantaraan untuk berhubung dengan malaikat dan juga dengan Tuhan. Selain dari golongan tersebut ada pula golongan yang percaya kepada dua tuhan yaitu tuhan kebaikan dan tuhan kejahatan. Tuhan kebaikan menjadikan yang baik-baik saja dan tuhan kejahatan menjadikan yang jahat-jahat saja.
Golongan yang paling mulia di Makkah yaitu golongan Quraisy menganut pemahaman zindik, yaitu kepercayaan kepada cahaya dan gelap. Pemahaman ini menolak adanya akhirat dan Tuhan. Pemahaman yang demikian pada masa ini dinamai ateis. Walaupun golongan Quraisy ini tidak percaya kepada Tuhan tetapi mereka menyembunyikan pemahaman mereka dengan cara berpura-pura mempercayai Tuhan supaya mereka tidak disingkirkan dari golongan-golongan Arab yang lain yang percaya kepada adanya Tuhan. Pemahaman seperti pemahaman zindik ini juga dipegang oleh golongan bangsawan di Yasrib, dan mereka kemudiannya membentuk kelompok munafik yang menentang Rasulullah s.a.w secara sembunyi.
Agama Yahudi tidak dikembangkan kepada orang-orang Arab. Orang Yahudi beranggapan bangsa Arab lebih hina dari mereka dan tidak layak diterima sebagai penganut agama mereka. Agama Yahudi dijadikan agama yang khusus untuk bangsa mereka saja. Selain dari sikap orang Yahudi yang demikian, permusuhan dengan kerajaan Masehi Roman Timur juga menyebabkan pergerakan kaum Yahudi terhalang. Kerajaan Roman Timur mampu mengalahkan kerajaan Yahudi di Yaman dan mereka memburu orang Yahudi sebagai balas dendam terhadap perbuatan Yahudi membakar kaum Masehi di Yaman. Di mana saja dijumpai, tentera Roman Timur akan membunuh orang Yahudi. Orang Yahudi terpaksa melarikan diri ke seluruh pelosok muka bumi. Sebagian besar dari mereka membuat tempat tinggal di Khaibar dan Yasrib. Mereka membina benteng yang kokoh di sekeliling perkampungan mereka. Mereka tidak berani keluar jauh dari benteng pertahanan mereka. Oleh yang demikian mereka terpaksa menggunakan khidmat orang-orang Arab di dalam menguruskan perniagaan dan perladangan mereka. Jadi, tekanan dari pihak kerajaan Roman Timur dan keegoan mereka sendiri menyebabkan agama Yahudi tidak berkembang di Semenanjung Arab.
Ada sebagian kecil golongan Arab yang masih mengesakan Tuhan. Mereka terdiri dari pemimpin  Banu Hasyim yang menguasai Kaabah. Mereka tetap melakukan ibadat haji, umrah, bertawaf mengelilingi Kaabah dan menyembelihkan binatang korban. Pegangan mereka bersumberkan ajaran Nabi Ibrahim a.s.
Secara umumnya orang Arab percaya kepada Tuhan yang menciptakan alam tetapi mereka beranggapan Tuhan terlalu tinggi dan mereka tidak mampu berhubungan secara langsung dengan Tuhan. Mereka percaya ada benda-benda alam yang dikasihi oleh Tuhan. Mereka berpendapat untuk berhubungan dengan Tuhan perlu dibuat melalui benda-benda yang Tuhan kasihi. Untuk memudahkan upacara berhubungan dan penyembahan mereka membuat patung-patung yang menyerupai sesuatu yang dianggap sebagai dikasihi oleh Tuhan. Mereka mengadakan penyembahan dan persembahan kepada patung-patung tersebut sebagai cara untuk menyampaikan hajat kepada Tuhan Yang Maha Tinggi.
Umat manusia di seluruh Semenanjung Arab dan juga di seluruh pelosok dunia dibungkus oleh kegelapan akidah dan dicengkam oleh keruntuhan moral. Ajaran nabi-nabi yang pernah diutuskan oleh Tuhan telah dirubah oleh orang-orang yang gila kekuasaan sehingga kemurnian ajaran tersebut tidak dapat dikenalpasti lagi. Apa saja ajaran agama yang tidak disenangi oleh pihak yang berkuasa akan diubah. Bumi Persia menyaksikan banyak agama-agama dihancurkan oleh pemerintah. Agama-agama Zoroaster, Manu dan Mazdak menemui kehancuran di Persia.
Agama Masehi pula diputarbelitkan oleh orang-orang Masehi yang tunduk kepada pemerintahan kerajaan Roman Timur. Agama Yahudi dirusakkan oleh kaum Yahudi sendiri. Di tempat-tempat lain muncul agama falsafah yang direka oleh akal dan khayalan manusia sendiri. Kemusnahan akidah berlaku di merata tempat dan ia diikuti oleh kehancuran nilai-nilai akhlak yang murni. Banyak perkara yang diterima pakai sebagai adat dan kebudayaan telah merusakkan nilai-nilai murni kemanusiaan.
Di dalam kebudayaan orang Arab Jahiliah dan juga bangsa-bangsa lain, arak merupakan minuman kegemaran orang banyak. Darah umat manusia yang bercampur dengan najis arak menjadi medan yang luas bagi syaitan melakukan kerusakan ke atas Banu Adam. Puisi dan syair yang memuji dan memuja arak sering diperdendangkan. Arak menjadi pintu kepada bermacam-macam lagi perlakuan akhlak yang hina. Judi dan zina merajalela di dalam masyarakat. Di dalam tradisi mereka juga kaum lelaki bisa berkawin seberapa banyak yang mereka mau asalkan mereka mampu. Kaum lelaki juga berhak menceraikan isteri mereka sesuka hati mereka. Kaum wanita menerima nasib yang lebih malang apabila mereka yang kematian  suami dianggap sebagai bagian dari harta pusaka suami yang berhak dituntut oleh ahliwaris si suami. Tradisi yang demikian menyebabkan sistem kekeluargaan menjadi kucar kacir. Dan yang paling buruk berlaku di dalam tradisi Arab Jahiliah adalah adat kejam menanam anak perempuan yang baru lahir.
Kerusakan akidah dan akhlak yang menyerang penduduk di Tanah Arab tidak mampu dibendung oleh orang Masehi dan orang Yahudi. Orang Yahudi lebih berminat mengembangkan perniagaan mereka yang berasaskan riba. Perpecahan yang berlaku di kalangan masyarakat Arab memudahkan kaum Yahudi mengembangkan ekonomi mereka tanpa  persaingan besar dari golongan Arab.
Jika kaum Yahudi sibuk mengumpulkan harta, kaum Masehi juga tidak mempunyai kepimimpinan yang berkaliber untuk mengadakan pembaikan ke atas umat manusia. Ajaran mistik yang kompleks menyebabkan agama tersebut menjadi satu agama yang sukar difahami oleh orang banyak. Oleh karena itu banyak dari urusan agama dilakukan oleh pihak gereja saja. Orang banyak yang telah menyerahkan urusan agama mereka kepada pihak gereja sudah dianggap mendapat keselamatan.
Orang Arab secara umumnya mempunyai fikiran yang terbuka dalam banyak perkara tetapi mereka sangat fanatik dalam soal kepercayaan dan adat istiadat. Prinsip mereka dalam perkara tersebut adalah berpegang teguh dengan apa saja yang mereka pusakai dari nenek moyang mereka. Pusaka nenek moyang yang menyentuh soal kepercayaan dan adat istiadat tidak bisa diganggu-gugat oleh siapapun.
NABI MUHAMMAD S.A.W DAN KAUM MUSLIMIN
BERTANGGUNGJAWAB MENYELAMATKAN
UMAT MANUSIA DAN DUNIA SELURUHNYA
Di tengah-tengah kerusakan akidah dan akhlak yang melanda umat manusia di Semenanjung Tanah Arab dan di seluruh dunia itulah Allah s.w.t mengutuskan Rasul-Nya, Nabi Muhammad s.a.w. Pada masa Nabi Muhammad s.a.w dilahirkan, di dalam dunia ini ada tidak lebih dari tiga puluh orang yang mengenal Allah s.w.t sebagaimana yang patut dikenali. Kenyataan ini diterima oleh Salman al-Farisi dari pendeta terakhir yang beliau temui di Ammuria, dalam perjalanannya mencari kebenaran, sehingga beliau berjumpa dengan Nabi Muhammad s.a.w di Madinah. Pertemuan dengan Nabi Muhammad s.a.w mengakhirkan pencarian Salman. Dia telah menemui kebenaran.
Nabi Muhammad s.a.w berkewajiban membaiki seluruh dunia. Hanya satu agama yang lengkap dan sesuai dengan fitrah asli sekalian manusia yang mengimbangi soal lahiriah dengan soal batiniah mampu menangani masalah berat yang sedang melanda dunia dan penghuninya. Agama tersebut adalah ISLAM! Baginda s.a.w diutuskan bagi menyampaikan risalah dari Allah s.w.t  dan mengurus urusan makhluk di dalam dunia ini agar peraturan Allah s.w.t dipatuhi oleh seluruh manusia. Kaum Muslimin yang menjadi umat baginda s.a.w juga memikul amanah tersebut, bertanggungjawab menyambung perjuangan baginda s.a.w. Tugas tersebut terletak di atas bahu umat Nabi Muhammad s.a.w sampai hari kiamat. Jalan yang telah dipelopori oleh Nabi Muhammad s.a.w dan diikuti oleh sahabat-sahabat baginda s.a.w adalah sebaik-baik dan sebenar-benar jalan. Jalan yang paling baik dan paling benar ini juga dilalui oleh para pengikut baginda s.a.w yang datang kemudian.
Dasar agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w adalah mengabdikan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mencari kesejahteraan hidup di akhirat tanpa melupakan tanggungjawab terhadap kehidupan dunia dan makhluk Tuhan sekaliannya. Tugas utama mereka adalah menyucikan akidah mereka sendiri, kaum keluarga dan umat manusia sekaliannya. Tugas berikutnya yang sangat penting adalah memurnikan akhlak diri sendiri, kaum keluarga dan umat manusia sekaliannya. Akidah dan akhlak merupakan dua agenda paling penting di dalam tarekat Nabi Muhammad s.a.w yang juga diikuti oleh para sahabat baginda s.a.w.

Rabu, Januari 13, 2010

KETUKAN IMAN

Pengalaman Sejati Sang Profesor
ditulis oleh : mohamad setiawan
(Sumber : tabloid pesantren)

     Namaku Arthur Alison, seorang profesor yang menjabat Kepala Jurusan Teknik Elektro Universitas London. Sebagai orang eksak, bagiku semua hal bisa dikatakan benar jika masuk akal dan sesuai rasio. Karena itulah, pada awalnya agama bagiku tak lebih dari objek studi. Sampai akhirnya aku menemukan bahwa Al Quran, mampu menjangkau pemikiran manusia. Bahkan lebih dari itu. Maka aku pun memeluk Islam. 
     Itu bermula saat aku diminta tampil untuk berbicara tentang metode kedokteran spiritual. Undangan itu sampai kepadaku karena selama beberapa tahun, aku mengetuai Kelompok Studi Spiritual dan Psikologis Inggris. Saat itu, aku sebenarnya telah mengenal Islam melalui sejumlah studi tentang agama-agama. 
Pada September 1985 itulah, aku diundang untuk mengikuti Konferensi Islam Internasional tentang 'Keaslian Metode Pengobatan dalam Al Quran' di Kairo. Pada acara itu, aku mempresentasikan makalah tentang 'Terapi dengan Metode Spiritual dan Psikologis dalam Al Quran'. Makalah itu merupakan pembanding atas makalah
lain tentang 'Tidur dan Kematian', yang bisa dibilang tafsir medis atas Quran surat Az Zumar ayat 42 yang disampaikan ilmuwan Mesir, Dr. Mohammed Yahya Sharafi. 
     Fakta-fakta yang dikemukakan Sharafi atas ayat yang artinya, "Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu
tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir," telah membukakan mata hatiku terhadap Islam. 
     Secara  parapsikologis,  seperti  dijelaskan  Al  Quran, orang tidur dan orang mati adalah dua fenomena yang sama. Yaitu dimana ruh terpisah dari jasad. Bedanya, pada
orang tidur, ruh dengan kekuasaan Allah  bisa kembali kepada jasad saat orang itu terjaga. Sedangkan pada orang mati, tidak. 
     Ayat itu merupakan penjelasan, mengapa setiap orang yang bermimpi sadar dan ingat bahwa ia telah bermimpi. Ia bisa mengingat mimpinya, padahal saat bermimpi ia
sedang tidur. 
     Quran surat Az Zumar ayat 42 ini juga menjadi penjelasan atas orang yang mengalami koma. Secara fisik, orang yang koma tak ada bedanya dengan orang mati. Tapi ia tak dapat dinyatakan mati, karena  secara psikis ada suatu kesadaran yang masih hidup. 
     "Bagaimana Al Quran yang diturunkan 15 abad silam, bisa menjelaskan sebuah fenomena yang oleh teori parapsikologis baru bisa dikonsepsikan pada abad ini?". 
     Jawaban  atas  pertanyaan  inilah  yang  akhirnya meyakinkan aku untuk memeluk Islam. Selepas sesi pemaparan kesimpulan dalam konferensi itu, disaksikan oleh Syekh Jad Al-Haq, Dr. Mohammed Ahmady dan Dr. Mohammed Yahya Sharafi, akupun menyatakan dengan tegas bahwa Islam adalah agama yang nyata benarnya. 
Terbukti, isi Al Quran yang merupakan firman Allah pencipta manusia, sesuai dengan fakta-fakta ilmiah. Kemudian dengan yakin, aku melafadzkan dua kalimat syahadat yang sudah sangat fasih kubacakan. Sejak itu aku pun menjadi seorang Muslim dan mengganti namaku menjadi Abdullah Alison. 
     Sebagai  Ketua  Kelompok  Studi  Spiritual  dan  Psikologi Inggris, aku telah mengenal banyak agama melalui sejumlah studi yang dilakukan. Aku mempelajari Hindu, Budha dan agama serta kepercayaan lainnya. Entah kenapa, ketika aku  mempelajari Islam, aku juga terdorong untuk melakukan studi perbandingan dengan agama lainnya. 
     Walaupun baru pada saat konferensi di Mesir, aku yakin benar bahwa Islam sebuah agama besar yang nyata perbedaannya dengan agama lain. Agama yang paling baik diantara agama-agama lain adalah Islam. Ia cocok dengan hukum alam tentang proses kejadian manusia. Maka hanya Islam-lah yang pantas mengarahkan jalan hidup manusia. 
     Aku merasakan benar, ada sesuatu yang mengontrol alam ini. Dia itulah Sang Pencipta (Creator), Allah Swt. Aku pikir dari pengalaman bagaimana aku mengenal dan masuk Islam, pendekatan ilmiah Al Quran bisa menjadi sarana efektif untuk mendakwahkan Islam di Barat yang sangat  rasional itu.

Rabu, Desember 02, 2009

RENUNGKAN

Wanita ini berumur tujuh puluhan. Pernahkah Anda membayangkan bagaimana orang seusia ini menilai hidupnya?Jika ada yang ia ingat tentang hidupnya, tentunya berupa suatu "kehidupan yang cepat berlalu".
Ia akan berkomentar bahwa hidupnya tidaklah "panjang" sebagaimana impiannya di usia belasan. Mungkin tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa suatu hari ia akan menjadi begitu tua. Namun kini, ia dicekam oleh kenyataan bahwa ia telah meninggalkan tujuh puluh tahun di belakangnya. Ketika muda, mungkin tak pernah terpikir olehnya bahwa kebeliaan dengan segala gairahnya akan berlalu begitu cepat.
Bila pada usia senja ia diminta untuk menceritakan kisah hidupnya, kenangannya akan terangkum dalam pembicaraan selama lima atau enam jam saja. Hanya itulah yang tersisa dari yang disebutnya sebagai "masa tujuh puluh tahun yang panjang".
Daya pikir seseorang, yang melemah sesuai usia, dipenuhi banyak pertanyaan. Berbagai pertanyaan ini sungguh penting untuk direnungkan, dan menjawabnya secara jujur sangat mendasar untuk memahami seluruh aspek kehidupan: "Apakah tujuan dari hidup yang berlalu begitu cepat ini? Mengapa aku harus terus bersikap positif dengan semua masalah kerentaan yang kumiliki? Apa yang akan terjadi di masa depan?"
Jawaban yang mungkin terhadap pertanyaan-pertanyaan ini terbagi dalam dua kategori utama: dari orang-orang yang mengimani Allah dan dari orang-orang yang tidak mengimani-Nya.
Seseorang yang tidak mengimani Allah akan mengatakan, "Saya telah menghabiskan hidup mengejar hal yang sia-sia. Saya telah meninggalkan tujuh puluh tahun di belakang saya, namun sebenarnya, saya masih belum dapat memahami untuk apa saya hidup. Ketika masih anak-anak, orang tua adalah pusat kehidupan saya. Saya mendapatkan kebahagiaan dan kesenangan dalam cinta mereka. Kemudian, sebagai seorang wanita muda, saya mengabdikan diri kepada suami dan anak-anak. Pada masa itu, saya membuat banyak cita-cita untuk diri saya. Namun ketika tercapai, semuanya seperti sesuatu yang cepat berlalu. Saat bergembira dalam keberhasilan, saya melangkah menuju cita-cita lain yang menyibukkan, sehingga saya tidak memikirkan makna hidup yang sesungguhnya. Kini pada usia tujuh puluh tahun, dalam ketenangan usia senja, saya mencoba menemukan apa gerangan tujuan masa lalu saya. Apakah saya hidup untuk orang-orang yang kini hanya samar-samar saya ingat? Untuk orang tua saya? Untuk suami saya yang telah berpulang bertahun-tahun yang lalu? Atau anak-anak yang kini jarang saya lihat karena telah memiliki keluarga masing-masing? Saya bingung. Satu-satunya kenyataan adalah bahwa saya merasa dekat dengan kematian. Saya akan segera meninggal dan menjadi kenangan yang redup dalam benak orang-orang. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Saya benar-benar tidak tahu. Bahkan memikirkannya saja sudah menakutkan!"
Tentunya ada alasan mengapa ia begitu berputus asa. Ini semata karena ia tidak dapat memahami bahwa alam semesta, seluruh makhluk hidup dan manusia memiliki tujuan yang telah ditentukan sebelumnya dan harus dipenuhi dalam hidup. Adanya tujuan-tujuan ini berasal dari fakta bahwa segalanya telah diciptakan. Orang yang berakal dapat melihat hadirnya perencanaan, perancangan, dan kearifan dalam setiap detail dunia yang penuh variasi. Hal ini membawanya pada pengenalan terhadap sang Pencipta. Selanjutnya ia akan menyimpulkan bahwa, karena seluruh makhluk hidup tidaklah disebabkan oleh suatu proses acak atau tanpa sadar; mereka semua menjalankan tujuan yang penting. Dalam Al Quran, pedoman asli terakhir yang diturunkan untuk manusia, Allah berulang kali mengingatkan kita akan tujuan hidup kita, suatu hal yang cenderung kita lupakan, dan dengannya membimbing kita pada kejelasan pemikiran dan kesadaran.
Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. (QS. Huud, 11: 7)
Ayat ini memberikan pemahaman penuh akan tujuan hidup bagi orang-orang yang beriman. Mereka mengetahui bahwa hidup ini adalah tempat mereka diuji dan dicoba oleh Pencipta mereka. Karenanya, mereka berharap untuk berhasil dalam ujian ini dan mencapai surga serta kesenangan yang baik dari Allah.
Akan tetapi, demi kejelasan, ada sebuah poin penting untuk dipikirkan: mereka yang mempercayai 'keberadaan' Allah tidak lantas memiliki keyakinan yang benar; jika mereka tidak meletakkan kepercayaan kepada Allah. Kini, banyak orang menerima bahwa alam semesta adalah ciptaan Allah; namun, mereka kurang memahami dampak fakta ini terhadap hidup mereka. Karenanya, mereka tidak menjalankan hidup mereka sebagaimana yang seharusnya. Apa yang dianggap orang-orang ini sebagai kebenaran adalah, bahwa pada awalnya Allah menciptakan alam semesta ini, kemudian meninggalkannya.
Dalam Al Quran, Allah menunjukkan kesalahpahaman ini dalam ayat berikut:
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah: "Segala puji bagi Allah"; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. Luqman, 31: 25)
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: "Allah", maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan? (Surat az-Zukhruf: 87)
Karena kesalahpahaman ini, manusia tidak dapat menghubungkan kehidupan mereka sehari-hari dengan fakta bahwa mereka memiliki Pencipta. Itulah alasan dasar mengapa setiap manusia mengembangkan prinsip dan nilai-nilai moral pribadinya sendiri, yang terbentuk dalam budaya, komunitas, dan keluarga tertentu. Prinsip-prinsip ini sebenarnya berfungsi sebagai "petunjuk hidup" hingga datangnya kematian. Manusia yang menaati nilai-nilai mereka sendiri akan mendapatkan kenyamanan dalam harapan bahwa setiap tindakan yang salah akan dihukum sementara dalam neraka. Pemikiran sejenis menyimpulkan bahwa kehidupan abadi dalam surga akan mengikuti masa penyiksaan ini. Pemikiran tersebut tanpa sadar meredakan rasa takut akan hukuman yang memilukan di akhir kehidupan. Beberapa orang, di lain pihak, bahkan tidak merenungkan hal ini. Mereka sama sekali tidak memedulikan dunia selanjutnya dan "memanfaatkan hidup sebaik-baiknya".
Bagaimanapun, hal di atas tidak benar dan kenyataannya berseberangan dengan apa yang mereka pikirkan. Mereka yang berpura-pura tidak menyadari keberadaan Allah akan terjebak dalam keputusasaan yang dalam. Dalam Al Quran, orang-orang tersebut digambarkan sebagai berikut:
Mereka hanya mengetahui yang lahir dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang akhirat adalah lalai. (QS. Ar-Ruum, 30: 7)
Tentulah, orang-orang ini hanya memahami sedikit saja mengenai keberadaan dan tujuan sesungguhnya dunia ini, dan mereka tidak pernah berpikir bahwa kehidupan dalam dunia ini tidaklah kekal.
Ada beberapa ungkapan yang umum dipergunakan manusia mengenai pendeknya kehidupan ini: "Manfaatkanlah hidupmu sebaik-baiknya selagi sempat", "hidup itu pendek", "manusia tidak hidup selamanya" adalah ungkapan yang selalu dirujuk dalam mendefinisikan sifat dasar dunia ini. Namun, ungkapan-ungkapan ini mengandung keterikatan yang terselubung kepada hidup ini, dibandingkan kepada hidup setelahnya. Ungkapan-ungkapan itu mencerminkan perilaku umum manusia terhadap kehidupan dan kematian. Karena kecintaan akan hidup yang demikian besarnya, pembicaraan tentang kematian selalu diselingi dengan lelucon atau hal lain yang mengurangi keseriusan permasalahan tersebut. Selingan ini selalu memiliki tujuan, sebagai upaya sengaja untuk mereduksi permasalahan penting tersebut menjadi hal yang remeh.
Kematian sesungguhnya merupakan topik yang penting untuk direnungkan. Hingga saat seperti ini dalam kehidupannya, seseorang mungkin tidak menyadari betapa berarti kenyataan ini. Namun, karena kini ia punya kesempatan untuk memahami pentingnya hal tersebut, ia harus mempertimbangkan kembali kehidupan dan segenap harapannya. Tidak pernah ada kata terlambat untuk bertobat kepada Allah serta mengarahkan kembali seluruh perilaku dan melanjutkan kehidupan seseorang dalam kepatuhan akan kehendak Allah. Hidup itu pendek; jiwa manusia kekal. Dalam masa yang pendek ini, seseorang seharusnya tidak membiarkan keinginan yang sementara mengendalikannya. Seseorang seharusnya melawan godaan dan menjauhkan dirinya dari segala hal yang memperkuat ikatannya terhadap dunia ini. Sungguh tidak bijaksana untuk mengabaikan dunia yang selanjutnya, hanya demi kesenangan yang sementara ini.
Meski demikian, orang-orang yang tidak beriman dan tidak dapat memahami kenyataan ini menghabiskan hidup mereka dalam kesia-siaan dengan melupakan Allah. Lebih lanjut, mereka mengetahui bahwa tidaklah mungkin mereka mencapai keinginan-keinginan ini. Mereka selalu merasakan ketidakpuasan yang dalam dan menginginkan lebih daripada apa yang mereka miliki kini. Mereka memiliki harapan dan keinginan yang tidak berakhir. Namun, dunia bukanlah tempat yang sesuai untuk memuaskan keinginan-keinginan ini.
Tidak ada yang kekal di dunia ini. Waktu berlaku pada hal-hal yang bagus dan baru. Sebuah mobil baru akan segera ketinggalan jaman begitu model lain dirancang, diproduksi, dan dipasarkan. Sama halnya, seseorang mungkin menginginkan rumah besar milik orang lain atau rumah mewah dengan ruangan yang lebih banyak daripada penghuninya dan dengan perlengkapan yang dilapisi emas, yang pernah dilihat sebelumnya, akan kehilangan selera terhadap rumahnya sendiri dan tidak dapat menghindari hal-hal tersebut dengan rasa iri.
Sebuah pencarian tak berakhir untuk sesuatu yang baru dan lebih baik tidak memberikan nilai ketika ia telah dicapai, celaan terhadap sesuatu yang lama, dan meletakkan seluruh harapan pada yang baru: ini adalah lingkaran setan yang telah dialami manusia di mana pun sepanjang sejarah. Namun, seorang manusia yang berilmu pengetahuan seharusnya berhenti dan bertanya pada diri sendiri untuk sesaat: mengapa ia mengejar ambisi yang sementara dan sudahkah ia dapatkan keuntungan dari upaya itu? Akhirnya, ia seharusnya menarik kesimpulan bahwa "ada masalah mendasar pada pandangan ini". Namun manusia, yang sedikit sekali memikirkan hal ini, terus mengejar mimpi yang sepertinya tidak akan dapat mereka capai.
Tidak ada seorang pun, bagaimanapun juga, mengetahui apa yang akan terjadi bahkan dalam beberapa jam mendatang: setiap saat seseorang mungkin mengalami kecelakaan, terluka parah, atau menjadi cacat. Lebih jauh lagi, waktu berlalu dalam perhitungan menuju kematian seseorang. Setiap hari membawa hari yang telah ditakdirkan tersebut lebih dekat. Kematian pastilah menghapus seluruh ambisi, keserakahan, dan keinginan terhadap dunia ini. Di dalam tanah, baik harta benda maupun status tidak berlaku. Setiap harta benda yang membuat kita kikir, begitupun tubuh kita, akan menghilang dan meluruh di dalam tanah. Apakah seseorang itu kaya atau miskin, cantik atau jelek, suatu saat ia akan dibungkus dalam kafan yang sederhana.
Kami percaya bahwa Fakta-Fakta yang Mengungkap Hakikat Hidup menawarkan sebuah penjelasan mengenai sifat yang sesungguhnya dari kehidupan manusia. Sebuah kehidupan pendek dan penuh tipuan yang didalamnya keinginan duniawi terlihat menarik dan penuh janji, namun kenyataannya bertolak belakang. Buku ini akan memungkinkan Anda merasakan hidup Anda dan seluruh kenyataannya, dan membantu Anda memikirkan kembali tujuan Anda dalam hidup, bila Anda menginginkannya.
Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk mengingatkan manusia lain akan fakta-fakta ini, dan menyuruh mereka hidup hanya untuk memenuhi keinginan-Nya, sebagaimana yang difirmankan-Nya dalam ayat berikut:
Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat menolong bapaknya sedikit pun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan penipu memperdayakan kamu dalam Allah. (QS. Luqman, 31: 33)

Rabu, November 25, 2009

Wajah Yang Jujur

Pernahkah anda menatap orang-orang terdekat anda saat ia sedang tidur?

Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur. Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang. Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun bisa jadi akan tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur. Orang paling kejam di dunia pun jika ia tidur sudah tak akan tampakl wajah bengisnya Perhatikanlah ayah anda saat beliau sedang tidur.

Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya. Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya. Orang inlah rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.

Sekarang, beralihlah. Lihatlah ibu anda. Hmm.. kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai-belai tubuh bayi kita itu kini kasar karena terpaan hidup yang keras. Oang inilah yang tiap hari mengurus kebutuhan kita. Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan mengomeli kita semata-mata karena rasa kasih dan sayangnya itu sering kita salah artikan.

Cobalah menatap wajah orang-orang tercinta itu : Ayah, Ibu, suami, istri, kakak, adik, anak, sahabat, semuanya. Rasakan sensasi yang timbul sesudahnya. Rasakan energi cinta yang mengalir pelan-pelan saat menatap wajah lugu yang terlelap itu. Rasakan getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah dilakukan orang-orang itu untuk kebagaiaan anda. Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalah pahaman kecil yang entah kenapa selalu saja nampak besar.

Secara ajaib Tuhan mengatur agar pengorbanan itu bisa tampak lagi melalui wajah-wajah jujur mereka saat sedang tidur. Pengorbanan yang kadang melelahkan namaun enggan merka ungkapkan. dan Ekspresi wajah ketika tidur pun mengungkapkan segalanya. Tanpa kata, tanpa suara dia berkata : "betapa lelahnya aku hari ini." dan penyebab lelah itu? Untuk siapa dia berlelah-lelah? Tak lain adalah suami yang bekerja keras mencari nafkah dan istri yang bekerja mengurus dan mendidik anak, juga rumah. Kakak, adik, anak, dan sahabat yang telah melewatkan hari-hari suka dan duka bersama kita.