Selamat Datang.............

Selasa, September 08, 2009

HARI QIYAMAT

Tanda-Tanda Hari Kiamat

Tanda-tanda kiamat adalah alamat kiamat yang menunjukkan akan terjadinya kiamat tersebut. Dan tanda-tanda kiamat ada dua: tanda-tanda kiamat besar dan tanda-tanda kiamat kecil.

Tanda kiamat kecil adalah tanda yang datang sebelum kiamat dengan waktu yang relatif lama, dan kejadiannya biasa, seperti dicabutnya ilmu, dominannya kebodohan, minum khamr, berlomba-lomba dalam membangun, dan lain-lain. Terkadang sebagiannya muncul menyertai tanda kiamat besar atau bahkan sesudahnya.

Tanda kiamat besar adalah perkara yang besar yang muncul mendekati kiamat yang kemunculannya tidak biasa terjadi, seperti muncul Dajjal, Nabi Isa a.s., Ya’juj dan Ma’juj, terbit matahari dari Barat, dan lain-lain.

Para ulama berbeda pendapat tentang permulaan yang muncul dari tanda kiamat besar. Tetapi Ibnu Hajar berkata, “Yang kuat dari sejumlah berita tanda-tanda kiamat, bahwa keluarnya Dajjal adalah awal dari tanda-tanda kiamat besar, dengan terjadinya perubahan secara menyeluruh di muka bumi. Dan diakhiri dengan wafatnya Isa a.s. Sedangkan terbitnya matahari dari Barat adalah awal dari tanda-tanda kiamat besar yang mengakibatkan perubahan kondisi langit. Dan berakhir dengan terjadinya kiamat.” Ibnu Hajar melanjutkan, ”Hikmah dari kejadian ini bahwa ketika terbit matahari dari barat, maka tertutuplah pintu taubat.” (Fathul Bari)

Tanda-Tanda Kiamat Kecil

Tanda-tanda kiamat kecil terbagi menjadi dua: Pertama, kejadian sudah muncul dan sudah selesai; seperti diutusnya Rasulullah saw., terbunuhnya Utsman bin ‘Affan, terjadinya fitnah besar antara dua kelompok orang beriman. Kedua, kejadiannya sudah muncul tetapi belum selesai bahkan semakin bertambah; seperti tersia-siakannya amanah, terangkatnya ilmu, merebaknya perzinahan dan pembunuhan, banyaknya wanita dan lain-lain.

Di antara tanda-tanda kiamat kecil adalah:

1. Diutusnya Rasulullah saw

Jabir r.a. berkata, ”Adalah Rasulullah saw. jika beliau khutbah memerah matanya, suaranya keras, dan penuh dengan semangat seperti panglima perang, beliau bersabda, ‘(Hati-hatilah) dengan pagi dan sore kalian.’ Beliau melanjutkan, ‘Aku diutus dan hari Kiamat seperti ini.’ Rasulullah saw. mengibaratkan seperti dua jarinya antara telunjuk dan jari tengah. (HR Muslim)

2. Disia-siakannya amanat

Jabir r.a. berkata, tatkala Nabi saw. berada dalam suatu majelis sedang berbicara dengan sahabat, maka datanglah orang Arab Badui dan berkata, “Kapan terjadi Kiamat ?” Rasulullah saw. terus melanjutkan pembicaraannya. Sebagian sahabat berkata, “Rasulullah saw. mendengar apa yang ditanyakan tetapi tidak menyukai apa yang ditanyakannya.” Berkata sebagian yang lain, “Rasul saw. tidak mendengar.” Setelah Rasulullah saw. menyelesaikan perkataannya, beliau bertanya, “Mana yang bertanya tentang Kiamat?” Berkata lelaki Badui itu, ”Saya, wahai Rasulullah saw.” Rasulullah saw. Berkata, “Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah kiamat.” Bertanya, “Bagaimana menyia-nyiakannya?” Rasulullah saw. Menjawab, “Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat.” (HR Bukhari)

3. Penggembala menjadi kaya

Rasulullah saw. ditanya oleh Jibril tentang tanda-tanda kiamat, lalu beliau menjawab, “Seorang budak melahirkan majikannya, dan engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang, dan miskin, penggembala binatang berlomba-lomba saling tinggi dalam bangunan.” (HR Muslim)

4. Sungai Efrat berubah menjadi emas

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat sampai Sungai Eufrat menghasilkan gunung emas, manusia berebutan tentangnya. Dan setiap seratus 100 terbunuh 99 orang. Dan setiap orang dari mereka berkata, ”Barangkali akulah yang selamat.” (Muttafaqun ‘alaihi)

5. Baitul Maqdis dikuasai umat Islam

”Ada enam dari tanda-tanda kiamat: kematianku (Rasulullah saw.), dibukanya Baitul Maqdis, seorang lelaki diberi 1000 dinar, tapi dia membencinya, fitnah yang panasnya masuk pada setiap rumah muslim, kematian menjemput manusia seperti kematian pada kambing dan khianatnya bangsa Romawi, sampai 80 poin, dan setiap poin 12.000.” (HR Ahmad dan At-Tabrani dari Muadz).

6. Banyak terjadi pembunuhan

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tiada akan terjadi kiamat, sehingga banyak terjadi haraj.. Sahabat bertanya apa itu haraj, ya Rasulullah?” Rasulullah saw. Menjawab, “Haraj adalah pembunuhan, pembunuhan.” (HR Muslim)

7. Munculnya kaum Khawarij

Dari Ali ra. berkata, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Akan keluar di akhir zaman kelompok orang yang masih muda, bodoh, mereka mengatakan sesuatu dari firman Allah. Keimanan mereka hanya sampai di tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya. Di mana saja kamu jumpai, maka bunuhlah mereka. Siapa yang membunuhnya akan mendapat pahala di hari Kiamat.” (HR Bukhari).

8. Banyak polisi dan pembela kezhaliman

“Di akhir zaman banyak polisi di pagi hari melakukan sesuatu yang dimurkai Allah, dan di sore hari melakukan sesutu yang dibenci Allah. Hati-hatilah engkau jangan sampai menjadi teman mereka.” (HR At-Tabrani)

9. Perang antara Yahudi dan Umat Islam

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat sehingga kaum muslimin berperang dengan yahudi. Maka kaum muslimin membunuh mereka sampai ada seorang yahudi bersembunyi di belakang batu-batuan dan pohon-pohonan. Dan berkatalah batu dan pohon, ‘Wahai muslim, wahai hamba Allah, ini yahudi di belakangku, kemari dan bunuhlah ia.’ Kecuali pohon Gharqad karena ia adalah pohon Yahudi.” (HR Muslim)

10. Dominannya Fitnah

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat, sampai dominannya fitnah, banyaknya dusta dan berdekatannya pasar.” (HR Ahmad).

11. Sedikitnya ilmu

12. Merebaknya perzinahan

13. Banyaknya kaum wanita

Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda. “Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat adalah ilmu diangkat, banyaknya kebodohan, banyaknya perzinahan, banyaknya orang yang minum khamr, sedikit kaum lelaki dan banyak kaum wanita, sampai pada 50 wanita hanya ada satu lelaki.” (HR Bukhari)

14. Bermewah-mewah dalam membangun masjid

Dari Anas ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Diantara tanda kiamat adalah bahwa manusia saling membanggakan dalam keindahan masjid.” (HR Ahmad, An-Nasa’i dan Ibnu Hibban)

15. Menyebarnya riba dan harta haram

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Akan datang pada manusia suatu waktu, setiap orang tanpa kecuali akan makan riba, orang yang tidak makan langsung, pasti terkena debu-debunya.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al-Baihaqi)

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Akan datang pada manusia suatu saat di mana seseorang tidak peduli dari mana hartanya didapat, apakah dari yang halal atau yang haram.” (HR Ahmad dan Bukhari)

Tanda-Tanda Kiamat Besar

Sedangkan tanda-tanda kiamat besar yaitu kejadian sangat besar dimana kiamat sudah sangat dekat dan mayoritasnya belum muncul, seperti munculnya Imam Mahdi, Nabi Isa, Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj.

Hudzaifah bin As-yad al-Ghifaryberkata, sewaktu kami sedang berbincang, tiba-tiba datang Nabi MuhammadS.A.W kepada kami lalu bertanya, “Apakah yang kamu semua sedang bincangkan.?” Lalu kami menjawab, “Kami sedang membincangkan tentang hari Kiamat.” 

Sabda Rasulullah S.A.W. “Sesungguhnya kiamat itu tidak akan terjadi sebelum kamu melihat sepuluh tanda :
Asap
Dajjal
Binatang melata di bumi
Terbitnya matahari sebelah barat
Turunnya Nabi Isa A.S
Keluarnya Yakjuj dan Makjuj
Gerhana di timur
Gerhana di barat
Gerhana di jazirah Arab
Keluarnya api dari kota Yaman menghalau manusia ke tempat pengiringan mereka.

Dajjal maksudnya ialah bahaya besar yang tidak ada bahaya sepertinya sejak Nabi Adam A.S sampai hari kiamat. Dajjal boleh membuat apa saja perkara-perkara yang luar biasa.Dia akan mendakwa dirinya Tuhan, sebelah matanya buta dan di antara kedua matanya tertulis perkataan ‘Ini adalah orang kafir’.

Asap akan memenuhi timur dan barat, ia akan berlaku selama 40 hari. Apabila orang yang beriman terkena asap itu, ia akan bersin seperti terkena selsema, sementara orang kafir pula keadaannya seperti orang mabuk, asap akan keluar dari hidung, telinga dan dubur mereka. Binatang melata yang dikenali sebagai Dabatul Ard ini akan keluar di kota Mekah dekat gunung Shafa, iaakan berbicara dengan kata-kata yang fasih dan jelas. Dabatul Ard ini akan membawa tongkat Nabi Musa A.S dan cincin Nabi Sulaiman A.S.

Apabila binatang ini memukulkan tongkatnya ke dahi orang yang beriman, maka akan tertulislah di dahi orang itu ‘Ini adalah orang yang beriman’. Apabila tongkat itu dipukul ke dahi orang yang kafir, maka akan tertulislah ‘Ini adalah orang kafir’. Turunnya Nabi Isa. A.S di negeri Syam di menara putih, beliau akan membunuh dajjal. Kemudian Nabi Isa A.Sakan menjalankan syariat Nabi Muhammad S.A.W.

Yakjuj dan Makjuj pula akan keluar, mereka ini merupakan dua golongan. Satu golongan kecil dan satulagi golongan besar. Yakjuj dan Makjuj itu kini berada di belakang bendungan yang dibangunkan oleh Iskandar Zulqarnain. Apabila keluarnya mereka ini,bilangannya tidak terhitung banyaknya, sehingga kalau air laut Thahatiah diminum nescaya tidak akan tinggal walau pun setitik.

Rasulullah S.A.W telah bersabda,” Hari kiamat itu mempunyai tanda, bermulanya dengan tidak laris jualandi pasar, sedikit sahaja hujan dan begitu juga dengan tumbuh-tumbuhan.Ghibah menjadi-jadi di merata-rata, memakan riba, banyaknya anak-anak zina,orang kaya diagung-agungkan, orang-orang fasik akan bersuara lantang dimasjid, para ahli mungkar lebih banyak menonjol dari ahli haq” 

Berkata Ali bin Abi Talib,Akan datang di suatu masa di mana Islam itu hanya akan tinggal namanya saja,agama hanya bentuk saja, Al-Qur’an hanya dijadikan bacaan saja, mereka mendirikan masjid, sedangkan masjid itu sunyi dari zikir menyebut AsmaAllah. Orang-orang yang paling buruk pada zaman itu ialah para ulama, dari mereka akan timbul fitnah dan fitnah itu akan kembali kepada mereka juga.Dan kesemua yang tersebut adalah tanda-tanda hari kiamat.”

Sabda Rasulullah S.A.W, “Apabila harta orang kafir yang dihalalkan tanpa perang yang dijadikan pembahagian bergilir, amanat dijadikan seperti harta rampasan, zakat dijadikan seperti pinjaman, belajar lain dari pada agama, orang lelaki taat kepada isterinya,mendurhakai ibunya, lebih rapat dengan teman dan menjauhkan ayahnya, suara-suara lantang dalam masjid, pemimpin kaum dipilih dari orang yang fasik, oarng dimuliakan karena ditakuti akan tindakan jahat dan aniayanya dan bukan kerana takutkan Allah, maka kesemua itu adalah tanda-tanda kiamat.”

Ayat-ayat dan hadits yang menyebutkan tanda-tanda kiamat besar di antaranya: Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata, “Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” Dzulqarnain berkata, “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka.” (Al-Kahfi: 82)

“Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.” (An-Naml: 82)

Dari Hudzaifah bin Usaid Al-Ghifari ra, berkata: Rasulullah saw. muncul di tengah-tengah kami pada saat kami saling mengingat-ingat. Rasulullah saw. bertanya, “Apa yang sedang kamu ingat-ingat?” Sahabat menjawab, “Kami mengingat hari kiamat.” Rasulullah saw. bersabda,”Kiamat tidak akan terjadi sebelum engkau melihat 10 tandanya.” Kemudian Rasulullah saw. menyebutkan: Dukhan (kabut asap), Dajjaal, binatang (pandai bicara), matahari terbit dari barat, turunnya Isa as. Ya’juj Ma’juj dan tiga gerhana, gerhana di timur, barat dan Jazirah Arab dan terakhir api yang keluar dari Yaman mengantar manusia ke Mahsyar. (HR Muslim)

Dari Abdullah bin Mas’ud ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, ”Hari tidak akan berakhir, dan tahun belum akan pergi sehingga bangsa Arab dipimpin oleh seorang dari keluargaku, namanya sama dengan namaku.” (HR Ahmad)

Perbedaan antara tanda-tanda kiamat kecil dan kiamat besar adalah :
Tanda-tanda kiamat kecil secara umum datang lebih dahulu dari tanda-tanda kiamat besar.
Tanda-tanda kiamat kecil sebagiannya sudah terjadi, sebagiannya sedang terjadi dan sebagiannya akan terjadi. Sedangkan tanda-tanda kiamat besar belum terjadi.
Tanda kiamat kecil bersifat biasa dan tanda kiamat besar bersifat luar biasa.
Tanda kiamat kecil berupa peringatan agar manusia sadar dan bertaubat. Sedangkan kiamat besar jika sudah datang, maka tertutup pintu taubat.
Tanda-tanda kiamat besar jika muncul satu tanda, maka akan diikuti tanda-tanda yang lainnya. Dan yang pertama muncul adalah terbitnya matahari dari Barat.

Alam dunia adalah salah satu fase kehidupan yang dilalui oleh manusia, suatu saat nanti dunia ini akan berakhir dan manusia berpindah kepada fase kehidupan berikutnya yaitu alam akhirat. Akhir kehidupan dunia inilah yang disebut Kiamat.

Kiamat pasti tiba tanpa ragu sedikit pun, kepastian terjadinya ditetapkan oleh dalil-dalil al-Qur`an dalam jumlah yang besar. Di antara dalil-dalil tersebut adalah:

a. Firman Allah, “Dan sesungguhnya Hari Kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.” (Al-Hajj: 7).

b. Firman Allah, “Sesungguhnya Hari Kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman.” (Ghafir: 59).

c. Firman Allah, “Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan.” (Al-Qamar: 1).

Dari sunnah Nabi saw di antaranya sabda beliau, “Aku diutus, sedangkan aku dan Hari Kiamat adalah seperti ini,’ beliau menyandingkan antara jari telunjuk dan jari tengah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Meskipun Kiamat pasti terjadi akan tetapi Allah merahasiakan waktunya. Dia tidak berkenan memberitahukan kepada seorang pun, tidak kepada nabi yang diutus tidak kepada malaikat yang dekat. Jadi ilmu tentangnya mutlak di tangan Allah semata.

Dalil yang menetapkan hal itu di antaranya:

Firman Allah, “Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat, ‘Bilakah terjadinya?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku, tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Al-A’raf: 187).

Firman Allah, “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisiNya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat.” (Luqman: 34).

Firman Allah, “Manusia bertanya kepadamu tentang Hari Berbangkit. Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Berbangkit itu hanya di sisi Allah.’ Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi Hari Berbangkit itu sudah dekat waktunya.” (Al-Ahzab: 63).

Dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim ketika Jibril datang kepada Nabi saw bertanya tentang kapan Kiamat, Nabi saw menjawab, “Yang ditanya tentang Hari Kiamat tidak lebih mengetahui dari yang bertanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Walaupun Allah merahasiakan kapan terjadinya Kiamat akan tetapi tidak dengan tanda-tandanya. Dia berkenan memberitahukannya kepada Nabi saw lalu beliau menyampaikannya kepada kita. Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda, “Kiamat tidak terjadi sehingga ada dua kelompok besar bertikai yang memakan korban besar, seruan keduanya satu, dan sehingga muncul para Dajjal pembual besar mendekati 30, semuanya mengaku sebagai rasul Allah dan sehingga ilmu diangkat, gempa terjadi dalam jumlah besar, zaman menjadi dekat, fitnah besar muncul dan pembunuhan merajalela, sehingga harta melimpah di kalangan kalian, ia melimpah sehingga pemilik harta mencari-cari siapa yang menerima sedekahnya, dan sehingga dia menawarkannya maka orang yang ditawari berkata, ‘Aku tidak memerlukannya,’ sehingga manusia berlomba-lomba meninggikan bangunan dan sehingga seseorang melewati kubur orang lain dan dia berkata, ‘Seandainya aku yang menggantikannya’.”

Rabu, Agustus 26, 2009

Tarawih Sepanjang Zaman


Drs.H.M.Tarsi Hawi,S.H.(PTA Banjarmasin)

Dulu, begitu akan tiba bulan suci Ramadan, mulai pula diperbincangkan tentang jumlah rakaat Salat Tarawih. Kadang kala menjadi perdebatan yang bersifat negatif, dan tentu pula kadang kala bersiat poisitif, bila pihak-pihak dapat saling memahami bahwa betidak-samaan berpendapat itu adalah rahmat bagi semua.

Sekarang, berapapun jumlah rakaat salat Tarawih, bukanlah sesuatu yang penting untuk diperdebatkan. Umat sudah mulai dapat memahami, bahwa hasil ijtihad bila ternyata benar, sudah tersedia dua kebaikan di sisi Allah dan bila ternyata salah, ijtihadnya tidak disia-siakan, tetap bernilai suatu kebaikan di sisi-Nya. Pada tulisan ini, hanyalah sekadar pengungkapan kembali dasar ijtihad mengapa ada perbedaan jumlah rakaat Salat Tarawih.

Selengkapnya........

Selasa, Agustus 25, 2009

Ibadah Shaum Dan Keimanan Yang Unik

Oleh : Hamzah (Karyawan Badilag)

Bismillaahirrahmaanirraahiim

Dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir Jilid I dikisahkan bahwa : Suatu saat Rasulullah SAW berkumpul dengan para sahabatnya dalam satu Majlis. Biasanya para Sahabat yang bertanya kepada Rasulullah SAW, tetapi kali ini justru Rasulullah yang bertanya kepada para Sahabat.

Rasulullah bertanya : “ Ayyul Khalqa A’jaba Ilaikum Iimaana “ ? Makhluk manakah yang memiliki keimanan yang unik wahai para sahabatku ?

Para sahabat menjawab : Menurut kami makhluk yang memiliki keimanan yang unik adalah para malaikat Ya Rasulullah !

Rasulullah menjawab : Bukan! Bukan para malaikat yang memiliki keimanan yang unik, karena para malaikat adalah makhluk yang setiap saat senantiasa bisa berkomunikasi langsung dengan Allah SWT. Jadi alangkah naifnya para malaikat yang senantiasa diberi kebebasan berkomunikasi langsung dengan Allah SWT tetapi mereka tidak beriman kepada-Nya. Jadi keimanan yang demikian tidak temasuk keimanan yang unik dari seorang makhluk.

Rasulullah bertanya lagi : Jadi kalau begitu makhluk manakah yang memiliki keimanan yang unik selain para malaikat ?

Para sahabat menjawab lagi : kalau bukan para malaikat berarti para Nabi dan Rasul Allah Ya Rasulullah !

Rasulullah menjawab lagi : Para Nabi dan Rasul Allah juga bukan termasuk makhluk yang memiliki keimanan yang unik, karena para Nabi dan Rasul adalah manusia pilihan Allah yang dipercaya menerima wahyu-Nya secara langsung atau melalui malaikat Jibril. Alangkah naifnya para Nabi dan Rasul yang langsung menerima wahyu dari Allah jika mereka tidak beriman kepada-Nya. Jadi keimanan para Nabi dan Rasul Allah bukan termasuk makhluk yang memiliki keimanan yang unik sebab mereka adalah manusia- manusia pilihan Allah yang pernah bertemu langsung dengan Allah dalam menerima wahyu- Nya atau melalui malaikat Jibril yang senantiasa berkomunikasi langsung dengan Allah.

Rasulullah bertanya lagi : Jadi kalau begitu makhluk manakah lagi yang memiliki keimanan yang unik selain Nabi dan Rasul Allah ?

Para sahabat menjawab lagi : kalau bukan para Nabi dan Rasul Allah berarti kami para sahabat Ya Rasulullah !

Rasulullah menjawab lagi : Para sahabat Nabi juga bukan termasuk makhluk yang memiliki keimanan yang unik, karena para sahabat Nabi adalah orang yang hidup semasa dengan para Nabi dalam keadaan beriman dan taat kepada Nabi (yang dipercaya menerima wahyu Allah secara langsung atau melalui malaikat Jibril). Alangkah naifnya para sahabat Nabi yang langsung bertemu dengan Nabi dan Rasul tetapi mereka tidak beriman kepada-Nya. Jadi keimanan para sahabat Nabi dan Rasul bukan termasuk makhluk yang memiliki keimanan yang unik sebab mereka adalah manusia- manusia yang hidup bersama dengan Nabi dan Rasul (yang langsung menerima wahyu- Nya atau melalui malaikat Jibril). 

Rasulullah bertanya lagi : Jadi kalau begitu makhluk manakah yang memiliki keimanan yang unik selain sahabat Nabi dan Rasul ?

Para sahabat menjawab lagi : kalau bukan sahabat Nabi dan Rasul berarti para tabi’in Ya Rasulullah !

Rasulullah menjawab lagi : Para tabi’in juga bukan termasuk makhluk yang memiliki keimanan yang unik, karena mereka pernah bertemu langsung dengan para sahabat Nabi. Sementara sahabat Nabi adalah orang yang hidup semasa dengan para Nabi dan para Nabi adalah manusia yang dipilih dan dipercaya menerima wahyu-Nya secara langsung atau melalui malaikat Jibril. Alangkah naifnya para tabi’in yang langsung bertemu dengan sahabat Nabi jika mereka tidak beriman kepada Allah. Jadi keimanan para tabi’in bukan termasuk makhluk yang memiliki keimanan yang unik.

Para sahabat berkata dengan penuh penasaran : Kami tidak sanggup ya Rasulullah menjawab pertanyaan- pertanyaan tadi, jadi kalau begitu siapakah gerangan Ya Rasulullah makhluk yang tergolong memiliki keimanan yang unik tersebut ?.

Rasulullah menjawab : Makhluk yang termasuk memiliki keimanan yang unik adalah manusia yang hidup jauh setelah aku (kata Rasulullah), setelah sahabatku dan setelah tabi’in, tetapi mereka memiliki keimanan kepada sesuatu yang ghaib bagi mereka. Itulah orang yang bertaqwa yang senantiasa berpegang teguh terhadap al-Qur’an dan memperoleh petunjuk dari al-Qur’an.

Dari peristiwa tadi maka turunlah ayat al-Qur’an surat al- Baqarah ayat 3 s/d 5 :

“Yaitu orang- orang yang beriman kepada sesuatu yang ghaib, senantiasa mendirikan sholat, menafkahkan hartanya. Dan orang- orang yang beriman kepada kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ( al-Qur’an ) dan kitab sebelumnya serta beriman kepada hari akhir. Mereka adalah orang yang memperoleh petunjuk-Nya dan mereka termasuk orang- orang yang beruntung”.  

Jadi kalau begitu makhluk yang memiliki keimanan yang unik adalah manusia yang hidup jauh setelah Rasulullah, jauh setelah sahabat Rasulullah dan jauh setelah para Tabi’in tetapi mereka benar- benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan cara bertaqwa kepada-Nya. 

Apakah termasuk kita ?

Bukankah kita tidak pernah bertemu langsung dengan Allah ? tetapi kita beriman dan bertaqwa kepada- Nya.

Bukankah kita tidak pernah bertemu langsung dengan para Malaikat Allah ? tetapi kita beriman kepada para Malaikat Allah.

Bukankah kita tidak pernah bertemu langsung dengan Nabi dan Rasul Allah ? tetapi kita beriman kepada Nabi dan Rasul.

Bukankah kita tidak pernah bertemu langsung dengan Sahabat Rasulullah dan Tabi’in ? tetapi kita percaya bahwa mereka adalah orang-orang yang sholeh dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Alhasil semoga kita termasuk golongan makhluk yang memiliki keimanan yang unik dengan modal ketaqwaan kepada-Nya. Akan tetapi muncul pertanyaan besar bagi kita semua, “ Bagaimana cara memelihara keimanan yang unik tadi jika memang kita termasuk di dalamnya, sehingga kita masih tergolong orang yang bertaqwa kepada- Nya ?

Salah satu caranya adalah dengan memelihara ibadah shaum Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan. Karena tujuan ibadah shaum adalah mencetak manusia- manusia yang bertaqwa (Tattaquun) (QS. 2 : 183), manusia yang pandai bersyukur (Tasykurun) (QS. 2: 185) dan manusia yang mendapat petunjuk- Nya(Yarsyuduun)( QS. 2 : 186).

Landasan keimanan kita dalam melaksanakan ibadah shaum adalah termasuk keimanan yang unik sebagaimana yang dimaksud oleh Rasulullah SAW, sebab Setting Social nya sangat berbeda secara dhohiri dengan keimanan para Malaikat, para Nabi dan Rasul, para Sahabat Nabi, bahkan dengan Tabi’in sekalipun. Akan tetapi secara hakiki keimanan kita sama dengan keimanan para Malaikat, para Nabi dan Rasul, para Sahabat dan para Tabi’in (QS. 2 : 287). Semoga ibadah shaum kita diterima Allah SWT. Amin. Aquulu Qauli Hadza Wastaghfirullaaha Lii Walakum Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jumat, Agustus 21, 2009

MARHABAN YA RAMADHAN

IBADAH PUASA MELAHIRKAN KESUCIAN JIWA

اَلْحَمْدُلِلَّهِ اَّلذِي فَرَضَ عَلَيْنَا الصِّيامِ حَقَّ حَمْدِهْ, وَالصَّلاةُ وَالسَّلامُ عَلىَ سَيِّدِنا مُحَمَّدِ نِالَّذِي سَنَّ لَنا الْقِيامَ نَبِيِّهِ وَعَبْدِهْ, اَشْهَدُ اَنْ لاَّاِلَهَ اِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاشَرِيْكَ لَهْ, وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اَّلذِي لاَنَبِيَّ بّعْدَهْ, اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمَّدٍ وَّعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَجُنْدِهْ, وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإحْسانٍ اِلى يَوْمِ الدِّيْنِ يَوْمَ يَجْزِيَ الله ُعَلى اَمْثالِ عِبَادِهْ, اَمَّا بَعْدُ , اِتَّقُواالله َحَقَّ تُقاتِهِ وَلاتَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْن.

Puja dan puji serta penuh rasa syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan karunia Nya, kita dapat bertemu kembali di bulan yang penuh rahmat, ampunan dan maghfirah Nya ini.

Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan Rasulullah SAW. Mudah-mudahan ibadah puasa yang kita laksanakan dengan penuh kesadaran dan semata-mata karena Allah, kiranya dapat meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT.

Para pemirsa televise Daya Taka rahimakumullah. Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia :

Betapa bahagianya kita pada saat ini, berada bersama-sama umat diseluruh dunia di dalam bulan Ramadhan yang penuh berkah. Kebahagiaan yang kita rasakan ini adalah semata-mata karena kebenaran agama Allah atau agama Islam. Islam berarti penyerahan diri secara mutlak hanya kepada Allah, Tuhan pencipta alam semesta. Karenanya setiap muslim wajib mentaati segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya

Sekarang telah tiba bulan ramadhan, berarti kita akan melaksanakan perintah Allah yang berbunyi :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.(البقرة: 183)

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa",

Marilah kita sambut kedatangannya dengan ucapkan Marhaban Ya Ramadhan, Marhaban Ahla Shiyam, sungguh berbahagia setiap manusia muslim yang mukmin, semoga kita dapat menyelesaikan amal ramadhan ini, yang mana amal ramadhan itu akan menjadi saksi, menjadi pembela dan penolong dihadapan mahkamah Allah Rabbul 'Alamin.

Oleh karenanya, sudah sepantasnyalah kita meyakini bahwa tidak ada tuhan yang patut disembah dan dipuja kecuali Allah. Titah dan firman-Nya adalah nyata kebenarannya. Ajaran dan tuntunan-Nya tidak ada yang dapat merubahnya. Segala ketentuan-Nya terbukti kebenarannya.

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ. (البقره : 147 )

"Ajaran dan kebenaran itu hanya dari Tuhanlah yang pasti, sedangkan ajaran-ajaran lainnya adalah bersifat sementara dapat berubah dan berganti, karenanya janganlah engkau menjadi orang-orang yang ragu-ragu".

Puasa ramadhan akan melatih jasmani dan rohani kita, ia akan mendidik budi pekerti kita dan akan mencerdaskan akal kita. Puasa ramadhan adalah tempat latihan untuk menguasai diri, latihan mengekang hawa nafsu, walaupun barang halal kepunyaan kita sendiri.

Puasa ramadhan dapat mempertinggi sifat-sifat kepribadian, untuk memelihara martabat dan wibawa umat Islam dari pandangan manusia lain.

Puasa ramadhan mengajarkan agar kita manusia yang menguasai benda, tetapi bukan benda yang menguasai manusia.

Puasa ramadhan adalah merupakan ibadah kehadirat Allah SWT dan dengannya menjadilah para pelakunya insan muttaqin.

Itulah puasa ramadhan. Kini kita berada dalam latihan-latihan suci itu. Di dalam latihan suci itu kita telah di tempa, dibina, menjadi manusia yang dapat menguasai diri dan mengekang hawa nafsu.

Namun Allah SWT memerintahkan mengekang hawa nafsu bukan hanya dibulan puasa saja, tetapi kita harus hadapi setiap hari, bahkan setiap saat. Karena akibat hawa nafsulah dunia, masyarakat, keluarga dapat menjadi kacau balau.

.... إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ ...الخ (يوسف: 53 )

Sesungguhnya hawa nafsu itu senanitasa membawa kita kepada pertentangan dan perselisihan yang akan mengakibatkan kahancuran dan kebinasaan

Karenanya nafsu-nafu itu harus kita patahkan dan kita kalahkan, terutama nafsu-nafsu yang mengajak kepada sifat kesombongan, kecongkakan, kerakusan, ingin menang sendiri, ingin berbuat semaunya sendiri, ingin dianggap penting sendiri dan lain sebagainya.

v Selama sebulan kita berpuasa menahan makan dan minum serta syahwat disiang hari.

v Selama sebulan kita berjuang melawan hawa nafsu, bertempur habis-habisan untuk membebaskan roh kita dari penjajahan nafsu yang tidak kenal kepuasan.

v Selama sebulan kita dididik dan dilatih untuk insyaf dan sadar bahwa harta yang kita miliki ini harus dipergunakan menurut aturan dan tuntunan Allah.

Ini semua kita lakukan agar supaya kita tidak :

v Menjadi hartawan ala Qarun

v Tidak menjadi bangsawa ala Fir'aun

v Tidak menjadi ilmuan ala iblis.

Karena ketiga golongan itu adalah contoh perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam, yang berarti melanggar aturan Allah.

v Hartawan ala Qarun adalah hartawan yang semberono, berbuat sewenang-wenang, seenaknya saja membelanjakan dan mempergunakan hartanya, tidak menurut garis-garis yang diatur Allah, dia lupa daratan, lupa akan Allah yang memberinya ni'mat, sehingga dia kufur ni'mat.

.... لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ. (إبراهيم: 7)

… "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

v Bangsawan ala Fir'aun adalah model penguasa yang berbuat semaunya saja, marajalela dengan kekuasaan ditangannya, tanpa mengindahkan garis-garis keadilan dan norma-norma yang telah ditetapkan dan ditentukan Allah. Dia lupa bahwa kekuasaan itu juga adalah ni'mat Allah lalu dia kufur ni'mat.

v Ilmuan ala iblis adalah karena kesombongannya berani dia menentang perintah Allah. Dia merasa hebat sendiri seolah-olah lebih pandai dari pada Allah SWT, sehingga Al Qur'an mengatakan sebagai berikut;

... قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ. (البقره:30)

Iblis berkata, akan Engkau jadikan manusia yang akan merusak dunia dan akan melakukan pertumpahan darah, sedang kami ini (malaikat) yang selalu mensucikan Engkau, memuji dan memuja Engkau. Allah menjawab, Aku lebih tahu dari pada engkau

Ketiga sikap inilah yang masih selalu kita lihat dan kita rasakan yang perlu kita buang jauh-jauh. Sebab bila ketiga kelompok ini berada didalam masyarakat maka hancurlah masyarakat dan Negara itu. Karena hartawan yang bakhil, bangsawan yang zhalim dan ilmuan yang sombong itu akan menjadi kebal hukum, sehingga semua ketentuan, semua norma-norma akan tidak ada pengaruhnya kepada mereka. Akibatnya keadilan dan kebenaran tidak bisa ditegakkan di tengah-tengah masyarakat dan Negara.

Ingatlah bahwa harta, tahta dan ilmu akan tidak ada gunanya dan tidak akan ada manfaatnya bila tidak disertai dengan sifat taqwa. Tanpa taqwa, harta, tahta, dan ilmu akan menjadi bala dan laknat bagi masyarakat bangsa dan Negara.

Karenanya Allah mengabadikan contohnya dalam al Qur'an :

v Betapa kekayaan si Qarun, tetapi karena bakhilnya, dia tidak pandai mempergunakan hartanya dijalan Allah sehingga dirinya beserta hartanya hancur lebur, ambelas terbenam diperut bumi.

v Begitu juga betapa hebatnya kekuasaan Fir'aun, tetapi karena aniaya dan zhalimnya, keadilan diinjak-injaknya, rakyatnya diperas dan ditindas, akhirnya dia bersama dengan stafnya dan seluruh pembantunya mati konyol tenggelam didasar lautan.

Allah berfirman :

حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ ءَامَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا الَّذِي ءَامَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ. (يونس: 90)

Ketika Fir'aun hampir tenggelam (sudah megap-megap dilautan) berkatalah ia : aku percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israel dan aku termasuk orang yang berserah diri kepada Tuhan

v Begitu juga iblis karena kesombongannya dia berani menentang Allah, dia tidak mau sujud kepada Nabi Adam, karena merasa hebat sendiri, pintar sendiri, akhirnya dia dikeluarkan oleh Allah dari dalam syurga. Syurga adalah tempat orang yang tawadhdhu', bukan tempat orang yang sombong semacam iblis.

Saudara-saudara kaum muslimin yang mulia;

Bila kita memang benar-benar sebagai muslim yang baik dan gambaran puasa ramadhan ini bermanfaat, maka hendaknya kita tidak hanya mampu melaksanakan perintah Allah tetapi juga mampu menjauhi larangan Allah, sehingga tercermin didalam kenyataan :

v Bila kita hartawan, hendaknya hartawan yang dermawan

v Bila kita bangsawan, hendaknya bangsawan yang adil dan bijaksana

v Bila kita seorang ilmuan, hendaknya menjadi ilmuan yang terdidik dan terpimpin, tidak takabbur dan sombong.

Demikian yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan yang berbahagia ini.Mudah-mudahan dengan berkah rahmat dan magfirah yang Allah turunkan di dalam bulan suci ramadhan ini, mampu lebih memacu kita untuk mencapai tingkatan mukmin dan muttaqin yang selalu diredhai Allah.

Kamis, Agustus 13, 2009

Arti Penting Filsafat Hukum

Arti Penting Filsafat Hukum bagi Penerapan dan Pembentukan Hukum
 
Gadgets powered by Google

Seperti telah dikemukakan dalam kuliah umum Prof. Peter Mahmud Marzuki tentang Tempat Filsafat Hukum dalam Studi Ilmu Hukum maka kali ini akan kami sajikan paparan beliau tentang Arti Penting Filsafat Hukum bagi Penerapan dan Pembentukan Hukum.

Sebagaimana telah dikemukakan pada bagian pertama Bab ini bahwa filsafat hukum sangat berguna bagi mereka yang bergerak di dunia praktis sehari-hari dan penyusun naskah akademis Rancangan Undang-undang. Masalah sehari-hari adalah masalah penerapan hukum baik oleh eksekutif, hakim, maupun kuasa para fihak dalam bersengketa atau dalam melakukan hubungan hukum. Akan tetapi dalam masalah sehari-hari juga dimungkinkan adanya pembentukan hukum (rechtsconstructie) oleh hakim dalam kerangka penemuan hukum (rechtsvinding). Sedangkan penyusun naskah akademis suatu Rancangan Undang-undang biasanya adalah kalangan akadimisi yang bekerja sama dengan departemen atau instansi yang mengajukan RUU tersebut.

Sebenarnya baik penerapan hukum termasuk pembentukan hukum oleh hakim maupun penyusunan naskah akademis RUU merupakan konkritisasi tujuan hukum yang merupakan sesuatu yang ideal. Dalam Bab III buku saya Pengantar Ilmu Hukum, saya menyatakan bahwa damai sejahtera (peace) merupakan tujuan hukum. Saya kemukakan damai sejahtera sebagai tujuan hukum karena saya berpangkal pada kenyataan adanya perbedaan dalam kehidupan masyarakat. Perbedaan itu dapat bersifat materiil maupun immateriil.

Dalam suatu masyarakat sekecil apapun dan dalam keadaan berlimpah sekalipun, masih saja terdapat perbedaan dan perbedaan itu bukan tidak mungkin mengarah kepada perselisihan. Hanya saja perbedaan itu dikelola sedemikian rupa sehingga harmoni tetap dijaga dan perselisihan diselesaikan dengan mempertimbangkan keadaan masing-masing fihak. Sebagaimana dalam paduan suara terdapat suara sopran, alto, tenor, bariton, dan bas yang walaupun berbeda-beda apabila diaransir secara tepat akan menjadi suatu bunyi yang indah, demikian juga perbedaan-perbedaan dalam masyarakat tidak mungkin dihilangkan, melainkan diatata sedemikian rupa sehingga menjadi suatu kesatuan yang elok.

Hal itu berbeda dengan situasi yang tertib (order). Tertib mempunyai makna tidak kacau. Situasi semacam itu dapat dicapai meskipun di dalamnya terdapat penindasan oleh yang kuat terhadap yang lemah atau adanya ketidakseimbangan perlindungan. Dalam situasi yang tertib mungkin secara agregat masyarakat itu makmur tetapi kemakmuran itu tidak dinikmati secara seimbang oleh setiap individu yang menjadi warga masyarakat itu. Di dalam kehidupan bermasyarakat semacam itu mungkin sekali terdapat kesenjangan. Sebaliknya, dalam situasi damai sejahtera, perbedaan selalu ada tetapi tidak sampai menimbulkan kesenjangan. Demikian juga, dalam suasana yang tertib, tidak dimungkinkan adanya perbedaan pendapat karena hal itu akan mengganggu ketertiban. Dalam situasi damai sejahtera, perbedaan pendapat diarahkan kepada pencapaian kualitas kehidupan yang lebih tinggi bukan dipadamkan. Oleh karena itulah dalam suatu masyarakat yang membutuhkan ketertiban, pemerintah akan bersikap represif dan otoriter.

Hukum harus dapat menciptakan damai sejahtera, bukan ketertiban. Damai sejahtera inilah yang merupakan tujuan hukum. Dalam situasi damai sejahtera hukum melindungi kepentingan-kepentingan manusia baik secara materiil maupun immateriil dari perbuatan-perbuatan yang merugikan. Mengenai kepentingan kepentingan yang ada dalam masyarakat ini, Roscoe Pound membedakan antara kepentingan pribadi, kepentingan publik, dan kepentingan sosial. Kepentingan pribadi berupa keinginan seseorang mengenai hal hal yang bersifat pribadi, misalnya perkawinan. Kepentingan publik bersangkut paut dengan kehidupan kenegaraan, misalnya hak pilih dalam pemilihan umum. Sedangkan kepentingan sosial menyangkut kehidupan sosial, misalnya pemeliharaan moral. Berdasarkan apa yang dikemukakan oleh Roscoe Pound ini terlihat bahwa dalam menentukan kepentingan yang mana yang harus dilindungi oleh hukum, pertimbangan subjektif memagang peranan penting dengan mengingat faktor-faktor politik, ekonomi, sosial, dan agama. Oleh karena itulah dapat difahami kalau L.J. van Apeldoorn menyatakan bahwa usulan mengenai daftar kepentingan yang dilindungi tidak lain dari pada usulan yang timbul dari agenda politik. Tidak dapat disangkal bahwa bahwa penilaian subjektif mewarnai pertimbangan kepentingan apa yang harus diprioritaskan dan mana yang harus dikorbankan. Dalam memutuskan hal itu tidak terdapat suatu ukuran yang bersifat objektif.

Meskipun tidak mungkin diperoleh ukuran yang benar-benar objektif artinya tidak terdapat subjektivitas sama sekali dalam memutuskan kepentingan mana yang diprioritaskan, setidak-tidaknya harus diperoleh ukuran yang mendekati objektivitas. Dalam hal inilah filsafat hukum dapat menjadi pedoman.

Untuk memperoleh gambaran mengenai hal itu perlu dikemukakan contoh. Misalnya, suatu aturan hukum menetapkan bahwa setiap penggunaan dana yang berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah harus disetujui oleh Bupati atau Walikota; apabila tanpa persetujuan tersebut, tindakan itu merupakan tindakan korupsi. Pada hari Sabtu, saat tidak ada kantor, terjadi suatu gempa bumi; dalam hal demikian, aparat harus bertindak sigap untuk menolong korban dengan mengeluarkan dana, namun terdapat hambatan yuridis sebab apabila hal itu dilakukan, tindakan itu merupakan tindak korupsi. Dalam menghadapi situasi semacam itu filsafat hukum memberikan pedoman bahwa hukum dibuat untuk masyarakat bukan untuk hukum itu belaka. Oleh karena itulah dengan menggunakan konsep freiss ermessen atau discretionary power aparat tidak perlu menunggu persetujuan Bupati atau Walikota dalam mencairkan anggaran untuk menolong korban gempa bumi itu. Dalam hal demikian yang dipersoalkan bukan menurut hukum (rechtmatig) atau melanggar hukum (onrechtmatig), melainkan doelmatig artinya adakah tujuan yang lebih tinggi dari pada sekadar formalitas. Dalam kasus itu, dilihat dari sudut azas legalitas, suatu tindakan mencairkan dana APBD tanpa persetujuan Bupati atau Walikota merupakan suatu tindakan korupsi; akan tetapi azas legalitas tidak boleh mengalahkan tujuan yang secara substansial lebih tinggi, yaitu menyelamatkan nyawa manusia. Di sinilah arti penting filsafat hukum.

Contoh lain yang menunjukkan arti penting filsafat hukum dalam praktik sehari-hari adalah suatu kasus yang unik Riggs v Palmer yang biasanya disebut kasus Elmer. Di dalam kasus itu Elmer membunuh kakeknya dengan cara meracuni orang tua itu karena ia curiga bahwa sang kakek akan mengubah testamen yang telah dibuatnya karena kakek tersebut kawin lagi. Di dalam testamen tersebut dinyatakan bahwa Elmer mewarisi sejumlah harta. Elmer kemudian dinyatakan bersalah dan dipidana penjara untuk jangka waktu tertentu. Anak-anak perempuan sang kakek yang masih hidup menggugat pengurus testamen atas dasar Elmer tidak layak untuk mewarisi harta ayah mereka karena membunuh si pembuat testamen. Di negara bagian New York tidak terdapat ketentuan seperti pasal 912 Burgerlijk Wetboek Indonesia yang berbunyi:
Orang yang dijatuhi hukuman karena telah membunuh pewaris, orang yang telah menggelapkan, memusnahkan atau memalsukan surat wasiat pewaris, atau orang yang dengan paksaan atau kekerasan telah menghalangi pewaris untuk mencabut atau mengubah surat wasiatnya, serta istri atau suaminya dan anak-anaknya, tidak boleh menikmati suatu keuntungan pun dari wasiat itu.

Dengan tidak adanya ketentuan semacam itu di negara bagian New York, dapat saja pengadilan itu memutuskan Elmer berhak atas harta yang tertuang di dalam surat wasiat itu. Apabila hal itu yang terjadi, berlakulah pandangan bahwa apabila tidak dilarang berarti dibolehkan. Namun, pengadilan New York berdasarkan suara mayoritas memutuskan bahwa Elmer tidak boleh menikmati harta yang diwasiatkan dalam testamen itu. Putusan pada kasus itu mencerminkan bahwa pengadilan New York mengacu kepada nilai yang lebih tinggi dari sekadar mengacu kepada ada tidaknya ketentuan perundang-undangan. Dalam hal ini pengadilan itu berpegang kepada prinsip bahwa seseorang tidak boleh mendapat keuntungan dari kejahatannya.

Dari putusan itu dapat diperoleh suatu pemikiran bahwa apabila sesuatu tidak dilarang bukan berarti bahwa sesuatu itu dibolehkan. Pengadilan New York telah memberikan bingkai untuk sesuatu yang tidak boleh dilakukan. Bingkai itu bukan berupa aturan hukum, melainkan berupa suatu nilai kepatutan. Nilai inilah yang dijadikan landasan pengadilan New York untuk melarang pembunuh pemberi testamen menikmati isi testamen yang menguntungkan pembunuh.

Suatu kasus sejenis yang perlu juga dikemukakan sebagai contoh adalah kasus Henningsen v Bloomfield di negara bagian New Jersey. Dalam kasus itu, Henningsen membeli sebuah mobil berdasarkan suatu kontrak yang mengandung klausula bahwa tanggung gugat produsen hanya sebatas memperbaiki bagian-bagian yang cacat dan selebihnya produsen tidak bertanggung gugat. Akan tetapi kemudian terjadi kecelakaan dan ia menggugat produsen untuk minta biaya pengobatan meskipun ia tahu dalil untuk mengajukan gugatan itu tidak terdapat dalam klausula kontrak yang telah ia sepakati. Ternyata, pengadilan New Jersey mengabulkan gugatan Henningsen dan berpendapat bahwa berdasarkan kepatutan, produsen mobil harus bertanggung gugat atas cacat mobil yang menyebabkan terjadinya kecelakaan. Dari putusan itu, sekali lagi menunjukkan bahwa bukan ketentuan-ketentuan yang secara formal tertuang di dalam kontrak yang dijadikan acuan oleh pengadilan, melainkan kepatutan. Dalam hal inipun filsafat hukum memberi pedoman, yaitu dalam hubungan antara seorang individu dengan individu lainnya.

Dalam rangka penyusunan naskah akademis RUU pun juga tidak dapat dilepaskan dari tujuan hukum, yaitu damai sejahtera. Naskah akademis tersebut harus dapat menjabarkan tujuan itu sampai kepada ketentuan-ketentuan yang operasional. Konsiderans “Menimbang” dalam suatu undang-undang sebenarnya merupakan suatu gagasan yang bersifat konkrit perlunya dibuat undang-undang itu. Gagasan dasar biasanya yang diambil dari naskah akademis biasanya dimuat dalam Penjelasan Umum.
Penjelasan Umum suatu undang-undang berisi pemikiran yang bersifat filosofis. Sebagai contoh dikemukakan petikan Penjelasan Umum Undang-undang Nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal sebagai berikut:
... Penanaman modal harus menjadi bagian dari penyelenggaraan perekonomian nasional dan ditempatkan sebagai upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pembangunan ekonomi berkelanjutan, meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi nasional, mendorong pembangunan ekonomi kerakyatan, serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat dalam suatu sistem perekonomian yang berdaya saing.

Tujuan penyelenggaraan penanaman modal hanya dapat tercapai apabila faktor penunjang yang menghambat iklim penanaman modal dapat diatasi, antara lain melalui perbaikan koordinasi antarinstansi Pemerintah Pusat dan daerah, penciptaan birokrasi yang efisien, kepastian hukum di bidang penanaman modal, biaya ekonomi yang berdaya saing tinggi, serta iklim usaha yang kondusif di bidang ketenagakerjaan dan keamanan berusaha ...